JAKARTA (BJN) - Belakangan ini, ruang publik bising oleh narasi miring yang ditebar kaum oposisi dan para penentang pemerintah. Dengan menggunakan metafora murahan seperti film Pesta Babi, kelompok ini sibuk mendiskreditkan arah kebijakan negara.
Namun, publik tidak buta. Di balik retorika "kritis", tercium aroma busuk kepentingan asing. Berbagai narator independen negeri ini menelanjangi kelompok ini karena bertindak layaknya kaki tangan atau komprador asing yang gerah ketika kedaulatan ekonomi kita mulai ditegakkan.
Narasi yang dibangun lewat produksi film pesta babi dikuliti para narator bahwa ada aliran modal asing dalam produksi film tersebut.
Jika ingin bicara tentang "pesta", maka rezim ini justeru sedang mengungkap pesta sesungguhnya yakni Pesta Tikus.
Puluhan tahun mereka menikmati hasil manipulasi lahan sawit, permainan perizinan, penggelapan penerimaan negara, transfer pricing, under invoicing, dan berbagai skema yang membuat kekayaan Indonesia mengalir keluar sementara rakyat hanya mendapat remah-remahnya.
Selama puluhan tahun, republik ini digerogoti oleh tikus-tikus berdasi, yang menguasai lahan sawit secara ilegal, menggelapkan pajak, dan memanipulasi ekspor melalui praktik under-invoicing serta transfer pricing.
Para tikus ini berpuluh tahun menumpuk kekayaan pribadi di luar negeri, dan tega membiarkan rakyat gigit jari. Kerugian negara, versi PBB tidak main-main, mencapai angka fantastis hingga Rp15.000 triliun!
Inilah kejahatan sistematis yang selama ini dilindungi oleh jejaring oligarki dan kepentingan asing yang tidak ingin Indonesia mandiri.
Namun, hari ini, perpanjangan tangan para tikus itu dipaksa tersedak.



