JAKARTA (BJN) - Industri perfilman Indonesia mulai menunjukkan perlawanan serius terhadap maraknya pembajakan digital dan kejahatan siber yang selama ini merugikan para kreator serta rumah produksi nasional.
Perkumpulan Film Musik dan Media (PERFIMA) Indonesia bersama Kepolisian Negara Republik Indonesia resmi memperkuat sinergi nasional untuk melindungi karya anak bangsa melalui Pertemuan Production House 2026 yang digelar di Ballroom Kebayoran Park Hotel, Jakarta Selatan, Selasa (12/5/2026).
Mengangkat tema “Melindungi Karya Anak Bangsa di Era Digital: Sinergi Nasional Melawan Pembajakan dan Kejahatan Siber dalam Industri Perfilman”, forum tersebut mempertemukan pelaku industri film, rumah produksi, pemerintah, aparat penegak hukum, hingga insan pers dalam satu langkah bersama menghadapi ancaman pembajakan digital yang kian masif.
Acara dibuka oleh Karo Penmas Divisi Humas Polri, Trunoyudo Wisnu Andiko, mewakili Kepala Divisi Humas Mabes Polri. Dalam sambutannya, ia menegaskan komitmen penuh Polri dalam menjaga industri perfilman nasional dari praktik pembajakan.
“Polri hadir untuk menjaga industri perfilman Indonesia dari pembajakan. Dibutuhkan kolaborasi yang solid agar industri kreatif nasional dapat terus berkembang, aman, dan terlindungi,” tegas Brigjen Trunoyudo.
Menurutnya, perlindungan terhadap hak cipta dan karya kreatif menjadi bagian penting dalam membangun industri kreatif yang adil, kompetitif, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional berbasis kreativitas.
Forum ini juga menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai sektor strategis, di antaranya Sonny Hendra selaku Direktur Pengembangan Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi dan Digital, Kompol Jeffrey Bram dari Dittipidsiber Bareskrim Polri, Ketua Umum Badan Perfilman Indonesia Fauzan Zidni, serta Ketua Lembaga Sensor Film RI Naswardi.
Kegiatan ini juga membahas berbagai persoalan krusial mulai dari keamanan digital, perlindungan hak cipta, tantangan distribusi konten di era digital, hingga strategi memberantas pembajakan film yang dinilai menjadi ancaman serius bagi pertumbuhan industri perfilman nasional.
Diskusi interaktif antara peserta dan para narasumber juga digelar guna memperkuat sinergi nasional menghadapi kejahatan siber yang semakin kompleks.



