BOGOR (BJN) - Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Tanah Sareal menggelar kegiatan Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS) bersama siswa-siswi SMK Permata 1 & 2. Jl. Sholeh Iskandar Gg. Masjid Jami Al-Abrar, RT.02 RW.04 Kelurahan Kayumanis Kecamatan Tanah Sareal Kota Bogor, Jumat 18/9/2026.


Kegiatan yang dilaksanakan di SMK Permata Kota Bogor ini mengangkat tiga isu utama yang marak di kalangan remaja, yaitu pencegahan perkawinan anak, pencegahan stunting, serta pencegahan judi online (judol) dan pinjaman online (pinjol). Saat dikonfirmasi awak media beritajejaring.co.id.


Maktub, S.Ag., mengatakan Program BRUS merupakan program nasional Kementerian Agama RI yang bertujuan untuk memberikan edukasi dan pembekalan kepada remaja usia sekolah agar memiliki pemahaman yang komprehensif tentang kesehatan reproduksi, perencanaan masa depan, serta bahaya sosial di era digital. Katanya.

Dalam paparannya Maktub, menjelaskan pernikahan dini masih menjadi masalah serius. Selain bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang batas minimal usia menikah 19 tahun, pernikahan dini juga berdampak pada kesehatan reproduksi, tingginya angka stunting, putus sekolah hingga perceraian.

"Kami ingin anak-anak memahami bahwa menikah itu butuh kesiapan mental, fisik, ilmu dan ekonomi. Jangan karena pacaran atau karena sudah hamil duluan, lalu memaksakan menikah dini. Masa depan kalian masih panjang," tegasnya di hadapan siswa.

iklan sidebar-1

Selain pernikahan dini, materi yang paling mendapat antusias siswa adalah tentang bahaya pinjol dan judol. Petugas KUA menjelaskan bahwa pinjol ilegal dan judol seringkali menyasar anak muda dengan iming-iming uang cepat dan gaya hidup instan.

"Awalnya coba-coba top up Rp 10 ribu untuk judol, lama-lama ketagihan. Begitu kalah, larinya ke pinjol untuk menutupi hutang. Akhirnya gali lubang tutup lubang, data pribadi disebar, dan orang tua yang menanggung malu," jelasnya.

Pihak sekolah menyambut baik kegiatan ini, Nahrowi Kepala SMK Permata 1 mengatakan, edukasi seperti ini sangat relevan dengan kondisi siswa SMK yang sudah melek digital dan mulai mengenal uang jajan sendiri.


"Kami sengaja menggandeng KUA karena KUA tidak hanya bicara soal agama, tapi juga soal ketahanan keluarga. Harapannya setelah sosialisasi ini, siswa-siswi SMK Permata lebih bijak bermedia sosial, fokus pada pendidikan dan keterampilan, serta menjauhi pernikahan dini, pinjol dan judol," ujar Kepala Sekolah.