BOGOR (BJN) -  Wakil Wali Kota Bogor, Jenal Mutaqin, menegaskan perlunya langkah mitigasi untuk menghadapi ancaman dan risiko bencana hidrometeorologi pada akhir tahun ini.


Hal tersebut disampaikannya saat memimpin apel sinergi lintas sektor dalam rangka kesiapsiagaan menghadapi risiko bencana hidrometeorologi di wilayah Kota Bogor Tahun 2026, di Mako BPBD Kota Bogor, Jumat 6/11/2026, pagi.

Langkah antisipasi ini merupakan tindak lanjut dari surat edaran Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Untuk itu, diperlukan sinergi dengan program kerja Polresta Bogor Kota, Kodim 0606/Kota Bogor, serta perangkat daerah terkait.


“Bahwa dalam menghadapi situasi hidrometeorologi yang terjadi di Kota Bogor, yang hari ini secara spesifik memang hidrometeorologi basah, lebih kepada perubahan cuaca berkaitan dengan curah hujan,” jelas Jenal Mutaqin. 

Ia melanjutkan, diperlukan persamaan persepsi dan komitmen bahwa kesiapsiagaan bencana merupakan tanggung jawab bersama. Ada langkah-langkah mitigasi yang harus dilakukan dan disepakati bersama.

iklan sidebar-1

“Bahwa pencegahan lebih baik daripada penanganan saat darurat. Sekaligus menetapkan status siaga darurat bencana dengan melibatkan seluruh stakeholder,” ujarnya.

Langkah mitigasi dilakukan mulai dari tingkat kelurahan dengan melibatkan Kelurahan Tangguh Bencana dan Kecamatan Tangguh Bencana untuk mengantisipasi potensi terjadinya bencana sejak dini.

Hal ini mengingat sebagian besar bencana yang terjadi di Kota Bogor berupa banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang. Selain itu, terdapat sejumlah titik rawan bencana hidrometeorologi yang tersebar di berbagai wilayah Kota Bogor.

“Langkah ini harus masuk menjadi peta risiko bencana di dalam RPJMD maupun RPJPD. Karena yang paling penting adalah mitigasi awal tadi. Kenapa kita bentuk kelurahan tangguh bencana? Ya, tadi untuk menghindari bencana itu terjadi,” urainya.